Postingan

Salah Costum

Gambar
Kalau di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan ada penghargaan "Guru Paling Rajin Berangkat Pagi Sebelum Matahari Selesai Menguap," hampir bisa dipastikan pialanya sudah berdebu di ruang tamu Pak Didi. Bukan karena beliau meminta penghargaan, tetapi karena setiap hari beliau tiba di tempat tugas ketika ayam tetangga saja masih mempertimbangkan, "Kok gelap amat ya, jadi berkokok nggak?" Bahkan satpam pernah bercanda, "Pak, kalau Bapak datang lebih pagi lagi, nanti saya titip buka gerbang dari rumah." Hari Kamis pagi itu juga tidak ada yang berbeda. Jam weker belum sempat berbunyi tiga kali, Pak Didi sudah siap dengan seragam Pramuka lengkap. Baju cokelat rapi, celana cokelat tua licin tanpa kusut, sepatu mengilap sampai bayangan nyamuk pun terlihat. Kalau ada lomba "Pramuka Paling Siap Berkemah Padahal Mau Ngajar", Pak Didi jelas juaranya. Sementara itu, istri tercantiknya juga sudah siap berangkat dengan tujuan berbeda, meski jalur awalnya...

Asisten Lapangan

Gambar
  Namaku Didi. Sebelum kisah ini dimulai, hidupku cukup tenang. Pagi minum kopi, siang minum kopi lagi, sore berpikir mau minum kopi apa tidak. Namun semua berubah ketika Yayasan Senjakala menunjukku menjadi Asisten Lapangan atau yang lebih keren disebut ASLAP untuk program Makan Gratis Kerajaan Cilupir. Ketika pertama kali menerima tugas itu, aku langsung merasa bangga. “Pak Didi, Bapak kami tunjuk menjadi bagian tim inti dapur,” kata Ketua Yayasan. Aku mengangguk mantap. “Siap, Pak.” “Tugasnya cukup berat.” “Siap, Pak.” “Bisa membuat Bapak sering pulang malam.” “Siap, Pak.” “Kadang bisa bikin stres.” “Siap, Pak.” “Honor belum tentu bikin kaya.” Aku terdiam. “Boleh saya pikir-pikir dulu, Pak?” Untungnya semua tertawa dan akhirnya aku tetap menerima tugas itu. Hari interview relawan pun tiba. Dari pagi sampai sore aula Yayasan Senjakala dipenuhi pelamar. Ada yang melamar jadi koki, petugas distribusi, administrasi, gudang, hingga ahli gizi. Karena aku sudah ditunjuk lebih dulu, aku...

Banjir yang Mencuri Keluargaku

Gambar
                    Hujan turun sejak pagi. Rintiknya membasahi halaman rumah kecil keluarga kami, namun bagi kami, hujan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sejak kecil, aku—Novi, gadis kelas enam SD—telah akrab dengan aroma tanah basah dan suara tetes air di atap seng. Kampung kami memang jauh dari bukit, jauh dari hutan. Di sini, banjir bukanlah sesuatu yang biasa terjadi. Paling jauh, halaman kami hanya tergenang sedikit ketika hujan turun terlalu lama. Namun, hari itu, semuanya tampak tenang. Terlalu tenang. “Ayah, nanti siang kita makan apa?” tanya Adik bungsuku, Dina, sambil duduk di pangkuan Ibu. Suaranya yang cempreng membuat kami semua tertawa. Ibu mengusap rambut Dina sambil menjawab, “Tunggu saja. Ibu sudah membuat gulai ayam. Tapi jangan sering-sering minta ayam, ya. Kasihan tetangga kalau mencium aromanya.” Ayah tertawa kecil sambil menyalakan kompor untuk membuat kopi. “Kamu ini, Bu. Anak-anak memang senang...