Banjir yang Mencuri Keluargaku
Hujan turun sejak pagi. Rintiknya membasahi halaman rumah kecil keluarga kami, namun bagi kami, hujan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sejak kecil, aku—Novi, gadis kelas enam SD—telah akrab dengan aroma tanah basah dan suara tetes air di atap seng. Kampung kami memang jauh dari bukit, jauh dari hutan. Di sini, banjir bukanlah sesuatu yang biasa terjadi. Paling jauh, halaman kami hanya tergenang sedikit ketika hujan turun terlalu lama.
Namun, hari itu, semuanya tampak tenang. Terlalu
tenang.
“Ayah, nanti siang kita makan apa?” tanya Adik
bungsuku, Dina, sambil duduk di pangkuan Ibu. Suaranya yang cempreng membuat
kami semua tertawa.
Ibu mengusap rambut Dina sambil menjawab, “Tunggu saja.
Ibu sudah membuat gulai ayam. Tapi jangan sering-sering minta ayam, ya. Kasihan
tetangga kalau mencium aromanya.”
Ayah tertawa kecil sambil menyalakan kompor untuk
membuat kopi. “Kamu ini, Bu. Anak-anak memang senangnya makan enak. Biar saja.”
Aku tersenyum melihat kehangatan itu. Keluargaku tidak
kaya, tapi hangat. Ayah seorang petani yang setiap pagi pergi ke sawah. Ibu
membuat kue, kadang pesanan tetangga, kadang hanya untuk kami. Adik-adikku—Rafi
yang berusia sembilan tahun, Mila tujuh tahun, dan Dina empat tahun—selalu
memenuhi rumah dengan suara gaduh.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tidak ada yang bisa menebak bahwa hari itu adalah hari
terakhir aku melihat kehangatan itu utuh.
Hujan turun tanpa jeda selama tiga hari. Sungai kecil
di depan kampung kami mulai terlihat berbeda. Airnya semakin keruh.
Batang-batang kayu kecil mulai hanyut turun, terbawa arus dari arah yang tidak
seharusnya.
“Kok sungainya bawa kayu, ya?” tanya seorang tetangga.
Ayah mengerutkan dahi. “Biasanya kalau kayu-kayu begini
sudah sampai sini, artinya di atas sana sedang ada yang tidak beres.”
Aku menatap air sungai yang berwarna coklat pekat.
“Ayah, kita bakalan kena banjir, ya?”
Ayah menepuk kepalaku pelan. “Tidak, Novi. Kampung kita
jauh dari bukit. Kalau pun banjir, tidak akan besar.”
Jawaban itu membuatku sedikit tenang, meski jauh di
dalam hati ada sesuatu yang mengganjal.
Malam ketiga hujan masih belum berhenti. Rintiknya
berubah menjadi dentuman keras di atap rumah. Aku yang sulit tidur berjalan ke
dapur mengambil minum. Namun saat hendak kembali ke kamar, aku berhenti.
Ada suara.
“Bu… Ayah… dengar tidak?” aku memanggil pelan.
Ayah yang sedang mengaji di ruang tamu menoleh. “Suara
apa, Nak?”
“Ada gemuruh dari arah bukit…”
Ibu ikut keluar dari kamar. “Ah, paling suara angin
kencang.”
Tapi itu bukan angin. Suaranya seperti puluhan truk
yang berjalan bersamaan. Seperti batu besar berguling dari tempat tinggi.
Suaranya semakin dekat.
Ayah berdiri. Wajahnya berubah tegang. “Ini bukan
angin…”
Dan dalam hitungan menit, semuanya terjadi.
Pagi belum sepenuhnya datang, namun langit sudah tampak
kelabu pekat. Saat itulah suara itu memekik—suara air yang mengganas, menerjang
apapun yang menghalanginya.
“Air! Air dari bukit!” teriak seorang warga dari luar.
Ayah membuka pintu.
Yang aku lihat berikutnya adalah mimpi buruk: gelombang
besar, tinggi dan cepat, membawa gelondongan kayu raksasa yang berputar seperti
monster liar. Ratusan gelondong kayu, sebesar batang pohon raksasa, meluncur
bersama arus.
“Astagfirullah! Bu, cepat bawa anak-anak!” Ayah
berteriak.
Ibu menjerit, “Rafi! Mila! Dina! Cepat, sini!”
Aku mencoba meraih tangan Dina, sementara Ayah
mendorong kami ke luar rumah. Namun terlambat. Sebuah gelondong kayu menghantam
dinding rumah kami. Dinding itu pecah seperti kertas.
“AYAH!” aku menjerit.
Kami berlari, tapi air terlalu cepat. Gelombang besar
menghantam dari belakang. Aku terlempar, tubuhku seperti kapas yang
dipermainkan. Aku mendengar Ayah memanggil namaku.
“Novi! Pegang tanganku!”
Aku meraih tangan Ayah, tapi arus menarikku begitu
kuat. Tangan kami terlepas.
“AYAHHH!” suaraku tenggelam bersama suara adik-adikku
yang menjerit ketakutan.
Ibu berteriak sekuat tenaga, “NOVI! ANAKKU! BERTAHAN!”
Gelombong kayu kedua menghantam.
Setelah itu, dunia gelap.
Aku terbangun dalam rasa sakit yang tak terkira.
Tubuhku terjepit di antara ranting pohon besar yang tumbang. Kepalaku pusing,
bajuku robek. Aku mencoba duduk, namun tubuhku bergetar.
Di sekelilingku, hanya ada lumpur, air, dan puing-puing
rumah yang tidak bisa lagi dikenali.
“Bu…” suaraku parau. “Ayah…?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara air yang terus mengalir
muram.
Aku menangis. “Tolong… siapa pun…”
Beberapa jam kemudian, suara orang-orang terdengar.
“Di sini ada anak! Masih hidup!”
Aku diangkat oleh dua orang relawan yang mengenakan jas
hujan tebal. “Adik, kamu bisa dengar kami?”
Aku mengangguk lemah.
“Namamu siapa?”
“N… Novi…”
“Tenang, Novi. Kamu selamat. Kami bawa kamu ke posko.”
Selamat.
Hanya aku seorang.
Ketika aku sudah cukup sadar untuk bertanya, aku
mencari keluargaku.
“Pak… Ayah saya… Ibu saya… adik-adik saya… ketemu?”
Seorang relawan, seorang perempuan dengan mata yang
lembut, menggenggam tanganku. “Novi… sabar, ya. Kami masih mencari…”
Tapi wajahnya berkata sesuatu yang lain.
Esoknya, Ayah ditemukan. Lalu Ibu. Lalu satu per satu
adik-adikku.
Tidak ada yang selamat.
Aku menjerit histeris ketika diberi kabar. “Tidak!
Tidak mungkin! Ayahku kuat! Ibuku… Adikku… mereka… mereka pasti selamat, Bu!
Mereka pasti!”
Relawan itu memelukku erat. “Novi… mereka sudah tenang
sekarang…”
Aku meronta, memukul tanah, menendang, menjerit. Hati
kecilku hancur berkeping.
“Kenapa… kenapa cuma aku…” aku menangis tanpa suara.
Hari-hari berikutnya di posko seperti berjalan tanpa
cahaya. Aku makan karena disuapi. Aku tidur hanya karena tubuhku lelah
menangis.
Suatu malam seorang relawan laki-laki duduk di
sampingku. “Novi, kamu tahu kenapa banjir kemarin bisa sebesar itu?”
Aku menggeleng.
“Karena hutan di atas bukit sudah gundul. Ada
orang-orang yang menebang pohon besar, mengambil kayunya, membuka lahan tanpa
izin. Tidak ada pohon yang menahan air. Begitu hujan turun terus menerus,
tanahnya tidak kuat. Air membawa semuanya… termasuk gelondongan kayu yang
mereka tebangi.”
Aku menatapnya. “Jadi… ini semua karena orang jahat
itu?”
Relawan itu menghela napas panjang. “Karena ulah
manusia yang tidak bertanggung jawab, Novi.”
Aku menggigit bibir. Ada rasa marah, tetapi juga
bingung. “Kalau begitu… aku harus benci mereka?”
Relawan itu menggeleng pelan. “Tidak, Nak. Bukan benci.
Kamu cukup tahu bahwa alam akan membalas ketika manusia merusaknya. Tugas kita
adalah belajar, supaya hal seperti ini tidak terulang.”
Aku terdiam lama. Lalu aku berkata pelan, “Aku tidak
mau benci siapa pun. Ayah dan Ibu pasti tidak suka kalau aku benci orang.”
Relawan itu tersenyum kecil. “Kamu anak hebat.”
Aku tidak merasa hebat. Saat itu, aku hanya merasa
sendiri.
Beberapa minggu berlalu. Pemerintah mulai membangun
pemukiman baru. Banyak keluarga kehilangan rumah. Banyak juga yang kehilangan
anggota keluarga. Namun dari semuanya… aku yang paling sendiri.
Suatu hari, seorang ibu dan bapak datang menghampiriku
di posko. Relawan memperkenalkan mereka.
“Novi, ini Ibu Raras dan Pak Darman. Mereka bersedia
menjadi keluarga asuh untukmu.”
Aku mengangguk pelan. “Apa aku… harus ikut?”
Ibu Raras tersenyum lembut. “Kamu tidak harus apa-apa,
Nak. Tapi kamu tidak boleh hidup sendirian. Kamu anak baik. Kamu butuh rumah.”
Rumah.
Kata itu menyayat hatiku lagi.
Namun aku mengangguk. “Baik, Bu.”
Aku pindah ke rumah baruku seminggu kemudian. Rumah itu
tidak sebesar rumahku dulu, tapi hangat. Pada malam pertama, Ibu Raras masuk ke
kamarku.
“Novi, kamu masih ingat keluargamu?”
Aku tersentak. “Iya… aku ingat semua…”
Ibu Raras duduk di sampingku. “Bagus. Ingatlah mereka
dengan bahagia. Kalau kamu sedih, tidak apa-apa. Tapi jangan biarkan kesedihan
menghentikanmu untuk hidup.”
Aku menahan air mata. “Bu… kenapa cuma aku yang
selamat?”
Ibu Raras menggenggam tanganku. “Karena kamu diberi
kesempatan untuk hidup dan memberi arti. Mungkin kamu tidak mengerti sekarang.
Tapi suatu hari nanti… kamu akan mengerti.”
Aku menatapnya lama. “Aku ingin sekolah, Bu. Aku ingin
jadi orang penting… supaya tidak ada lagi anak kecil kehilangan keluarganya
karena ulah orang lain.”
Ibu Raras tersenyum. “Itulah jawaban hidupmu, Novi.”
Tahun-tahun berlalu. Luka itu tidak hilang, tapi
berubah menjadi bagian dari diriku. Aku mulai berani bercerita tentang
keluargaku kepada teman-temanku. Aku kembali belajar seperti dulu. Aku bahkan
membantu kampanye kecil di sekolah tentang menjaga hutan.
Pada suatu sore, aku duduk di halaman rumah keluarga
baruku. Langit sedang berwarna oranye, seperti senyuman Ibu saat memasak gulai
ayam. Angin sore mengingatkanku pada suara tawa adik-adikku. Aku menatap langit
lama sekali.
“Bu… Yah… Rafi… Mila… Dina…” aku berbisik. “Banjir
boleh mencuri kalian dariku, tapi tidak dengan harapanku. Aku akan hidup
seperti yang Ayah dan Ibu inginkan.”
Aku mengusap air mata yang jatuh. Bukan air mata
kesedihan, melainkan air mata ikhlas.
“Terima kasih karena pernah menjadi keluargaku.
Sekarang aku akan menjaga dunia… supaya ia tidak menyakiti anak lain seperti
aku.”
Langit sore terasa menjawab lewat semburat cahayanya.
Dan aku tersenyum, memulai hidup baru dengan hati yang
lebih kuat daripada sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar